HATI-HATI DENGAN UCAPANMU



Waktu umur 7 tahun saya ditanya oleh guru ngaji..
"Saat besar nanti cita-cita kamu mau jadi apa?"
"Guru, Pak" jawab saya tegas. Karena memang waktu itu saya sangat ingin jadi guru.
"Ah, kamu jangan ikut-ikutan temanmu. Coba kamu fikir lagi sebenarnya kamu mau jadi apa" Protes guru ngaji saya karena cita-cita menjadi guru sudah banyak disebut oleh teman-teman yang lain.
"Baik, Pak. Kalo gitu saya ingin jadi ________ saja" jawab saya sekenanya, karena kehabisan ide.

Apa yang terjadi kemudian?
Profesi saya saat ini persis dengan apa yang saya ucapkan saat umur 7 tahun. 

Ajaibnya, profesi ini saya pilih karena dipaksa dan terpaksa, karena memang bukan cita-cita sebenarnya. Padahal waktu itu kompetisi sangat ketat dan saya menjalani seleksi setengah hati alias gak serius, bahkan pernah berdoa semoga ga lulus.
Setelah dinyatakan lulus, saya baru menyadari, oh mungkin ini jawaban dari ucapan saya belasan tahun lalu.

Di lain waktu ibu saya nanya, "Nak, saat kamu besar nanti kamu mau kerja dimana, tinggal dimana, mau pergi kemana saja?"
"Saya mau kerja di tempat yang jauh, Bu. Pokoknya nyeberang laut. Keliling kampung orang" jawab saya penuh keyakinan. 
"Kamu gak sedih pergi jauh ninggalin ibu?"
"Sedih sih, Bu. Tapi kan bisa pulang kalo rindu"
"Kalo mau pulang tapi gak punya ongkos, atau mungkin sibuk jadi ga punya waktu, gimana?"
Saya diam tidak menjawab. Tidak ada ide.. Sedih membayangkan situasi itu.

Walaupun saat itu saya belum ngerti peta, tapi kota yang saya tinggali saat ini kurang lebih sudah tergambar dalam imajinasi seorang anak umur 7 tahun waktu itu. 
Saya pun beberapa kali merenung dalam-dalam ketika harus berkelana meninggalkan keluarga dari kota A ke kota B, C, D, dst.. beberapa tahun berturut-turut, mengejar sumbu hidup yang penuh misteri.

Dan percaya atau tidak, apa yang dikhawatirkan ibu saya waktu itu sudah sering saya alami. Bahkan sampai saat ini kadang serasa ingin meleleh ketika rindu mendera tapi kaki tak sanggup melangkah pulang, terjerat rutinitas tak berkesudahan.

"Alangkah indahnya kebebasan itu. Bebas waktu dengan rezeki berlimpah" kalimat yang selalu saya ucapkan saat saat ini, semoga Allah mengabulkan sebagaimana ucapan saya ketika umur 7 tahun, aamiiin...

Bukan materialistis, tapi memang sangat banyak amal kebaikan yang sering tertunda karena dua faktor itu. WAKTU dan UANG.

Teman-teman yang membaca tulisan ini sampai selesai, yuk kita biasakan untuk mengucapkan hal-hal positif, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

"Hati-hati dengan pola fikirmu, karena itu akan jadi ucapan.
Hati-hati dengan ucapanmu, karena itu akan jadi tindakan.
Hati-hati dengan tindakanmu, karena itu akan jadi kebiasaan.
Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena itu akan karakter.
Hati-hati dengan karaktermu, karena itu akan jadi masa depanmu."

Nasihat di atas sangat baik untuk kita renungkan. Namun saya belum menemukan siapa yang pertama kali menyusun kata-kata ini sehingga tidak saya cantumkan sumbernya. Jika ada yang tahu, tolong beritahu saya di kolom komentar.

Terima kasih

~ Sultan
No comments

No comments :

Post a comment