Sultan

Seorang laki-laki yang memiliki karakter Feeling Introvert, ayah dua anak, suka kopi dan fotografi.
Berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan dan sejak tahun 2000 berdomisili di Kota Bogor, Jawa Barat.



Waktu umur 7 tahun saya ditanya oleh guru ngaji..
"Saat besar nanti cita-cita kamu mau jadi apa?"
"Guru, Pak" jawab saya tegas. Karena memang waktu itu saya sangat ingin jadi guru.
"Ah, kamu jangan ikut-ikutan temanmu. Coba kamu fikir lagi sebenarnya kamu mau jadi apa" Protes guru ngaji saya karena cita-cita menjadi guru sudah banyak disebut oleh teman-teman yang lain.
"Baik, Pak. Kalo gitu saya ingin jadi ________ saja" jawab saya sekenanya, karena kehabisan ide.

Apa yang terjadi kemudian?
Profesi saya saat ini persis dengan apa yang saya ucapkan saat umur 7 tahun. 

Ajaibnya, profesi ini saya pilih karena dipaksa dan terpaksa, karena memang bukan cita-cita sebenarnya. Padahal waktu itu kompetisi sangat ketat dan saya menjalani seleksi setengah hati alias gak serius, bahkan pernah berdoa semoga ga lulus.
Setelah dinyatakan lulus, saya baru menyadari, oh mungkin ini jawaban dari ucapan saya belasan tahun lalu.

Di lain waktu ibu saya nanya, "Nak, saat kamu besar nanti kamu mau kerja dimana, tinggal dimana, mau pergi kemana saja?"
"Saya mau kerja di tempat yang jauh, Bu. Pokoknya nyeberang laut. Keliling kampung orang" jawab saya penuh keyakinan. 
"Kamu gak sedih pergi jauh ninggalin ibu?"
"Sedih sih, Bu. Tapi kan bisa pulang kalo rindu"
"Kalo mau pulang tapi gak punya ongkos, atau mungkin sibuk jadi ga punya waktu, gimana?"
Saya diam tidak menjawab. Tidak ada ide.. Sedih membayangkan situasi itu.

Walaupun saat itu saya belum ngerti peta, tapi kota yang saya tinggali saat ini kurang lebih sudah tergambar dalam imajinasi seorang anak umur 7 tahun waktu itu. 
Saya pun beberapa kali merenung dalam-dalam ketika harus berkelana meninggalkan keluarga dari kota A ke kota B, C, D, dst.. beberapa tahun berturut-turut, mengejar sumbu hidup yang penuh misteri.

Dan percaya atau tidak, apa yang dikhawatirkan ibu saya waktu itu sudah sering saya alami. Bahkan sampai saat ini kadang serasa ingin meleleh ketika rindu mendera tapi kaki tak sanggup melangkah pulang, terjerat rutinitas tak berkesudahan.

"Alangkah indahnya kebebasan itu. Bebas waktu dengan rezeki berlimpah" kalimat yang selalu saya ucapkan saat saat ini, semoga Allah mengabulkan sebagaimana ucapan saya ketika umur 7 tahun, aamiiin...

Bukan materialistis, tapi memang sangat banyak amal kebaikan yang sering tertunda karena dua faktor itu. WAKTU dan UANG.

Teman-teman yang membaca tulisan ini sampai selesai, yuk kita biasakan untuk mengucapkan hal-hal positif, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

"Hati-hati dengan pola fikirmu, karena itu akan jadi ucapan.
Hati-hati dengan ucapanmu, karena itu akan jadi tindakan.
Hati-hati dengan tindakanmu, karena itu akan jadi kebiasaan.
Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena itu akan karakter.
Hati-hati dengan karaktermu, karena itu akan jadi masa depanmu."

Nasihat di atas sangat baik untuk kita renungkan. Namun saya belum menemukan siapa yang pertama kali menyusun kata-kata ini sehingga tidak saya cantumkan sumbernya. Jika ada yang tahu, tolong beritahu saya di kolom komentar.

Terima kasih

~ Sultan

HATI-HATI DENGAN UCAPANMU

Menangis vs Tertawa


Saat masih kecil ayah saya berpesan, "Nak, kamu laki-laki. Jangan manja. Jangan gampang nangis. Hidup ini keras, kamu harus tangguh menghadapinya."

Pesan tersebut masuk ke alam bawah sadar saya dan membentuk saya menjadi pribadi yang pantang menangis. 

Setelah dewasa saya merenungkan pesan tersebut. Betapa banyak rintangan yang berhasil saya lalui karena kekuatan pesan tersebut.

Namun, seiring bertambahnya usia, saya menemukan bahwa menangis bukanlah kelemahan, termasuk bagi laki-laki. Menangis boleh-boleh saja, asal dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat, apa yang ditangisi dan kepada siapa kita menangis.

Saat tengah malam bermunajat kepada Allah di atas sajadah sambil menangis. Subhanallah keren. 

Menangislah... jika itu bisa meringankan beban hidupmu.

Menangislah hanya di hadapan Allah..

Menangislah... karena menangis adalah pengingat dosa.

Menangislah... karena menangis bukan kelemahan, namun terapi untuk menemukan kekuatan baru.

Ada yang bilang, lebih baik menangis daripada tertawa. Karena menangis akan mengingatkan kita pada dosa dan kematian, sementara tertawa justru bisa membuat lupa diri.

Menurut saya, menangis dan tertawa sama pentingnya. Menangis dan tertawa adalah kebutuhan untuk terapi jiwa. 

Ayah saya tidak salah memberikan nasihat itu. Karena saat masih kecil, mungkin saya belum faham jika dijelaskan seperti ini. Apa yang ayah saya lakukan adalah memotivasi anaknya agar tangguh untuk menaklukkan dunia.

~ @Sultan

MENANGIS vs TERTAWA

Home Is Where The Heart Is


Home is where the heart is. Begitu kata Elvis Presley dalam lagunya yang juga pernah dinyanyikan oleh group musik Firehouse. Eh, mana yang benar? Penyanyi aslinya Elvis Presley atau Firehouse? Kalau ada yang tahu tolong koreksi di kolom komentar ya.

Menurut saya sih lebih cocok dinyanyikan Elvis Presley. Karena dari nama group, Firehouse, kan artinya 'bakar rumah' atau 'rumah yang yang terbakar' (sedikit maksa), gak cocok nyanyi tentang rumah.

Lupakan tentang lagu itu. Saya bahkan belum mendengarkannya sampai selesai. Saya hanya merasa judul lagu ini kena banget. Sangat setuju bahwa rumah adalah tempat di mana hati berada.

Dalam Bahasa Indonesia, kata 'rumah' memiliki dua arti yakni rumah sebagai gedung tempat tinggal (house), dan rumah sebagai suasana atau tujuan pulang (home).

Bicara tentang 'rumah' memang Inggris lebih unggul. Tapi ketika bicara tentang 'kita' atau 'kami', jelas Indonesia menang. Orang Inggris hanya tahu we/us untuk kata 'kita' atau 'kami', meski keduanya berbeda.

Maaf jadi melenceng hehe..

Jadi, sebenarnya tulisan ini hanya intermeso. Semacam notifikasi bahwa saya telah kembali ke rumah ini. Gak terasa saya meninggalkan rumah ini begitu lama. Terlihat tulisan terakhir tetang tips memilih sepeda yang saya unggah empat tahun lalu.

Ya, blog ini adalah rumah saya di dunia online. Di dunia nyata, rumah saya di Bogor, Jawa Barat.

Sebelumnya, blog ini menggunakan domain phinisi[dot]net yang expired karena pemiliknya pelupa, kemudian berganti nama jadi sultan.web.id (keren, kan?). Huh biasa aja! Semua ekstensi lain sudah dikuasai orang.

Tapi ga papalah pake web aidi. Yang penting nama sendiri. Semoga makin konsisten menulis dan berbagi manfaat. Aamiiin..

Salam,

Home Is Where The Heart Is